
Sunday, March 25, 2012
Berganti Nama
Sudah lama sebenarnya aku merasa "Little Cheesy Girl" sudah tak sesuai lagi untuk blogku ini, dengan beberapa alasan:
1. Aku sudah berumur 22 tahun. Aku sudah menamatkan pendidikan sarjanaku. Aku bukan lagi seorang "girl". Aku sekarang (seharusnya) adalah wanita. Perempuan dengan tingkah dan pola pikir yang dewasa, walaupun sepertinya aku belum mampu. Well, I'm not a girl, not yet a woman.
2. Cheesy. Setelah aku cek di dalam kamus Bahasa Inggris, cheesy itu hampir bersinonim dengan silly. Ya, bodoh. Sebenarnya ini pelesetan dari nama email pertamaku; cheezy. Dulu aku memilih nama ini karena kebetulan aku sedang menikmati kue keju saat proses pembuatan email,hahaha. Nama ini kuplesetkan karena waktu itu (waktu aku pertama kali ngeblog), aku sedang dalam masa-masa bodoh. Aku masih seperti seorang anak manusia yang berjalan dalam gelap. Tanpa cahaya. Coba cek tulisan-tulisanku dalam label Labil time, kamu akan mengerti. Yeah, I was so labil. I was so silly as I dont understand my own feeling. But now, please just forget it. Read and take a lesson from it (if any).
3. Aku mulai sadar bahwa blog ini adalah ruang bagiku untuk menuangkan ribuan kata yang tiap harinya (mungkin) hanya bisa kupendam. Terkadang aku tak bisa menemukan objek hidup untuk membaginya. Ya, inilah ruang kata-kataku. Tempat aku berpulang untuk berbagi. Tempat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri.
Bagian dari unsur yang berproses di dalam hati dan pikiranku. Tanpa makna, tapi penuh rasa.
Dan aku juga baru mengganti alamat blogspotnya, I think this is the time to be the real me :)
Tidak bermaksud narsis :D
Saturday, March 24, 2012
Coklat
Coklat menawarkan sensasi nikmat yang istimewa di mulut pencintanya, tak jarang membuat perasaan pun ikut terbuai. Tak salah jika ada yang mengatakan bahwa coklat adalah mood buster.
Sepengetahuan saya, coklat itu dibagi menjadi tiga macam; dark chocolate, white chocolate dan milk chocolate. Ketiganya saya sukai karena saya memang penggila coklat, hanya saja milk coklatlah yang paling sering saya konsumsi. Alasannya sederhana, milk coklat lebih familiar dan lebih gampang ditemukan.
Perbedaan dari ketiga jenis coklat diatas adalah pada rasa dan kandungannya. Dark chocolate diyakini sebagai jenis coklat yang paling sehat untuk dikonsumsi namun rasanya sedikit pahit. Milk chocolate sudahlah pasti familiar bagi para chocolate lovers. Dan terakhir, white chocolate, si putih yang terkesan ekslusif. Secara keseluruhan, coklat itu sangatlah nikmat. Bayangkan ketika ia lumer di mulut anda; YUMMY.
Inikah Indonesia?
Tanpa ragu aku memproklamirkannya
Sedari dulu banyak yang berjuang tuk memajukannya
Negeriku… Indonesia
67 tahun telah nama Indonesia disandangnya
Bukan mudah dan terlilit lelah pahlawan menggapainya
Tapi apa?
Sudahkah kita menghargainya?
Ketika para pemimpin terlau sibuk menumpuk pundi harta. Ketika kedamaian itu harus dibayar harta. Ia bukan lagi hak asasi.
Dan si rakyat miskin sedang tersedu menahan lapar dan air mata
Ibu pertiwi hanya bisa tergugu, mungkin menahan murka
Tuhanku…
Beginikah negeri yang ku sebut Indonesia?
Benarkah tanahnya dari surga?
Karena yang kurasa, perlahan semakin bergejolak bak neraka.
Friday, March 23, 2012
Yudisium dan Wisuda
Ada semacam “adat” tidak tertulis tentang bagaimana tampil di hari istimewa ini. Bagi wanita, tampil secantik mungkin. Dan pria, selamat berganteng ria!
Berbalut kebaya dan (rok) songket, para wanita tampil bak model tersohor. Tak ketinggalan sepatu atau sandal dengan hak mencuat yang menambah cita rasa “anggun”. Semua ingin tampil cantik. Tampil istimewa di hari istimewa.
Yang pria pun seakan tak ingin kalah. Memakai jas dan sepatu pantofel, sudah cukup menggambarkan wibawa seorang intelektual muda. Benar-benar hari bahagia tampaknya.
Khusus untuk wisuda, ada satu tambahan pakaian lagi yang menjadi symbol kekeramatan. Toga. Baju “kebesaran” yang memang kebesaran. Walaupun tak nyaman, semua tampak dengan senang hati memakainya. Mengingat berapa besar pengorbanan mereka dan orangtuanya demi menggapai baju tersebut, jadi wajarlah jika mereka tampak berbunga-bunga memakainya.
Oke,fotonya agak melenceng dari deskripsi intelek :D
Ah, benar-benar hari yang indah. Keluar ruangan disambut ucapan selamat, jabat tangan dan senyum orang-orang terkasih dan teman. Benar-benar hari yang special bagi seorang mahasiswa hingga mereka merasa harus membuat semacam syukuran setelahnya.
Seandainya mereka tahu apa yang sedang menanti mereka dikemudian hari.
Indahnya Bumiku
Escape building nama tempat itu. Bangunan yang dibangun dengan tujuan untuk menyelamatkan diri apabila (mudah-mudahan jangan lagi) tsunami melanda. Bangunan sebagai symbol bahwa Aceh “belajar” dari musibah 2004 silam. Belajar untuk siaga.
Apabila anda menaiki gedung tersebut hingga ke atapnya, anda akan kembali diingatkan bagaimana beruntungnya kita sebagai manusia dititipi bumi yang begitu indah oleh Allah. Dengan letak yang cukup strategis, mata kita dimanjakan oleh beberapa keindahan dalam sekali pandang.
Kita mulai dari sebelah barat. Cobalah datang kemari menjelang maghrib maka anda akan menyaksikan pemandangan romantis dari matahari tenggelam ditemani dengan belaian lembut dari angin sore. Jika anda menolehkan wajah ke Utara, hamparan lautan membiru siap meggelitik anda untuk berdecak kagum. Palingkan wajah anda ke Selatan, gugusan hijau nan perkasa sudah menunggu dengan pesonanya, menanti anda menggumamkan “Masya Allah, indahnyaa.” Dan terakhir, putarlah badan anda dan lihat kota Banda Aceh terhampar dengan susunan yang tak kalah indah. Sungguh luar biasa. Sebut saja Museum Tsunami, Stadion Harapan Bangsa dan menara dari Mesjid Raya Baiturrahman tengah “melambai” dari kejauhan. Indahnya bumiku.
Menakjubkan, bangunan sesimpel itu bisa menawarkan banyak pesona. Bukan dari dirinya, tapi dari alam di sekelilingnya. Allah memang Maha Memberi Nikmat. Maka nikmat-Nya yang mana yang kamu dustakan?
Kehilangan (yang tersayang)
Kehilangan itu sendiri berarti perubahan kondisi. Dari ada menjadi tiada.
Kehilangan ini disebabkan oleh banyak hal; disengaja atau tidak, diinginkan atau tidak, diduga dan tak terduga. Kehilangan dalam kategori tidak disengaja, tidak diinginkan atau tidak terduga biasanya terjadi begitu cepat. Tanpa proses. Serta-merta. Ambil saja contoh kehilangan akibat bencana alam, kecelakaan, perampokan dan yang paling pasti KEMATIAN. Semuanya tidak terjadwal sebelumnya, tanpa persiapan. Dan biasanya kehilangan dalam kategori ini yang paling meremukkan hati mereka yang mengalaminya. Setiap yang bernyawa pasti mati, maka setiap yang bernyawa lainnya pasti merasa kehilangan.
Kehilangan dalam kategori kedua adalah kehilangan yang “terencana”. Berproses. Biasanya disebut perpisahan (sementara). Masih memungkinkan adanya pertemuan kembali. Walaupun dalam kondisi yang berbeda. Pada umumnya perpisahan ini terjadi karena dua orang (atau lebih) sudah tidak bisa memaksakan diri berada dalam track yang sama. Dan lebih seringnya lagi, waktulah yang menjadi pemicu proses kehilangan ini.
Waktu mengubah segalanya. Itu bukanlah ungkapan non-sense pemanis belaka. Itu nyata. Waktu mengubah usia, pola pikir, tingkah laku dan perasaan manusia. Disadari atau tidak, waktu yang memprosesnya. Semua yang kita lakukan punya batas waktu. Masa kadaluarsa.
Bahkan manusia ini tidak mempunyai kekuatan apapun terhadap waktu. Semua harus tetap berjalan. Siap atau tidak. Hingga nanti di tengah jalan, ada saja alasan untuk berpisah.
Sewaktu sekolah, kita biasa merayakan hari perpisahan. Hari berakhirnya kebersamaan kita dengan teman-teman seperjuangan kala itu, untuk kemudian tetap melanjutkan hidup kita dengan mitra yang lain. Perpisahan (sementara) adalah pertemuan dengan hal baru.
Yang menjadi permasalahannya, begitu banyak manusia yang tidak menghargai apa yang dimilikinya sekarang. Seolah-olah merasa yakin bahwa apa yang dimilikinya akan selalu bersamanya. Mereka tidak menghargai waktu kepemilikan tersebut. Mereka menyia-nyiakannya.
Sangat disayangkan bagaimana seorang manusia tidak menghargai keluarga, sahabat dan pasangan yang dimilikinya sekarang hanya karena merasa mereka sudah ada di sana. Tanpa dia sadari bahwa mereka tidak akan berada di sana selamanya.
Jadi, jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai. Jangan mau menjadi orang yang nantinya menyesal. Belum tentu anda akan melihat mereka beberapa menit lagi, kan?
Komitmen
Mungkin banyak, tapi sepertinya tidak.
Bagi saya pribadi, komitmen merupakan suatu bentuk keberanian untuk mengikat diri pada sesuatu/seseorang yang biasanya melibatkan perasaan tetapi masih berlandaskan logika. Simpelnya, komitmen berarti mau berjanji
Manusia diciptakan bersuku-suku dan berpasang-pasangan. Nah, dalam hal berpasangan inilah biasanya komitmen ikut disandingkan. Komitmen untuk sehidup semati adalah hal yang klasik yang biasa disyairkkan. Tapi apakah benar ada komitmen yang demikian?
Menilik dari berbagai kemungkinan, komitmen bisa dikategorikan dalam dua bagian; komitmen ikhlas dan komitmen culas.
Pertama, komitmen ikhlas. Disini maksudnya kedua insan yang memutuskan untuk berkomitmen memang digerakkan oleh “sesuatu” di dalam tubuhnya. Hati. Jika hati sudah memilih, biasanya organ lain akan mendadak tumpul. Proses pemilihan yang dilakukan oleh hati pun sangat random, tidak terdeteksi. Tiba-tiba saja hati menunjukkan bahwa “kamu yang akan menemaniku”. Sesimpel itu. Sesimpel rasa yang tiba-tiba menelusup, dititipkan oleh Yang Maha Mencintai.
Biasanya dalam kasus ini, perjalanan berkomitmen itu tidak mulus. Ada saja rintangan, abstrak maupun nyata. Dan disinilah hati dan isinya diuji. Sanggupkah? Seharusnya sanggup. Bukankah setiap usaha akan berbuah manis nantinya? Anggap saja rintangan itu sebagai simpul penguat komitmen yang sudah dijalani, mudah-mudahan tujuan akhir itu bisa dicapai dengan senyuman.
Dilain pihak, ada segelintir orang yang menerjunkan dirinya dalam komitmen culas. Dan yang berperan disini adalah otak. Otak mengirimkan sinyal-sinyal pertimbangan yang menggiurkan untuk membuat si empunya mau untuk berkomitmen. Komitmen karena harta, karena tahta, dan karena rupa. Tak ada satupun dari hal tersebut yang abadi.
Manusia ini hanya makhluk yang dititipi Allah dengan berbagai nikmat. Jadi ketika nikmat itu yang menjadi acuan, biasanya sifat buruk akan terpancing ke permukaan. Memilih sesuatu berdasarkan nilai dan keuntungan yang sebenarnya sangat jelas bersifat dinamis. Apa yang terjadi kita nilai itu anjlok? Komitmen pun ikut terperosok.
Komitmen. Tidak sesimpel teorinya. Hanya yang masih mempunyai perasaan yang mampu bertahan.
Menulis
Permasalahan sekarang adalah, bagaimana menulis menjadi tidak sesimpel kedengarannya ketika ide tidak dapat diturkan dengan baik. Tidak semua orang bisa memvisualisasikan idenya melalui tulisan. Dan kalaupun bisa, tidak semua penulis itu mempunyai cerita yang bisa
Pada dasarnya, setiap cerita mempunyai “nafas” tersendiri. Dan hal ini sangat berkaitan erat dengan kepribadian dan keahlian para penulisnya. Sebut saja cerita bergenre komedi, percintaan, thriller dan lainnya yang masing-masing punya pembaca tersendiri.
Saya pribadi, sebagai seorang yang menproklamirkan diri sebagai book-eater, sanggup membaca belasan buku dalam seminggu dengan genre yang berbeda tanpa pernah merasa “tersesat”. Saat membaca buku komedi, saya bisa tertawa lepas yang langsung berubah menjadi kegalauan (ehm!) ketika saya membaca buku bernafaskan cinta.
Yang membuat saya takjub, bagaimana para penulis ini terlihat bergitu cerdas. Terlihat begitu persuasif. Bagaimana mereka bisa mempermainkan perasaan pembaca untuk tetap membenamkan diri dalam cerita mereka seolah-olah hal itu begitu nyata. Bagaimana uantaian kata-kata tersebut menggoda imajinasi untuk memberi gambaran nyata yang terkadang luar biasa.
Sebut saja J.K Rowling, penulis buku fenomenal Harry Potter, bertengger dengan manisnya dalam daftar orang terkaya di dunia dari hasil tulisannya. Saya masih takjub dengan caranya membuai pembaca untuk ikut dalam dunia “lain” yang bahkan kita tidak pernah membayangkannya ada. Bagaimana sihir terlihat nyata dan penyihir terlihat “keren”. Sungguh luar biasa.
Di lain pihak, sebut saja Raditya Dika, salah satu penulis buku bergenre komedi terkenal di Indonesia, mampu menggetarkan perut pembaca lewat kekonyolan sederhananya. Bukan urusan gampang untuk memastikan semua pembaca ikut terpingkal dengan permainan katanya, namun menurut saya dia berhasil. Berhasil menjadi penulis yang menghidangkan tulisan segar. Tulisan yang diperlukan saat orang sudah lupa cara tertawa di tengah hiruk pikuk dunia.
Well…mereka orang-orang luar biasa. I envy them for that. Ternyata jenius itu bisa dinilai dari rangkaian kata. Mari taklukan dunia lewat tulisan. Penulis itu jenius, kawan!
Resolution
Well, for this first writing of my resolution I want to talk about resolution itself.
Resolusi. Satu kata yang biasa digaung-gaungkan saat menjelang tahun baru. “Apa resolusimu untuk tahun yang akan datang?” sounds familiar di tiap akhir tahun.
Menurut saya pribadi, resolusi adalah suatu bentuk keinginan untuk dapat menjadi lebih baik di tahun yang akan datang. 365 hari yang sudah dijalani bukanlah waktu yang singkat untuk belajar banyak hal. Dan pasti beberapa bagian dari pengalaman yang telah kita alami mengajarkan kita untuk tidak menulang kebodohan yang sama.
Bodoh. Manusia berakal sehat mana yang ingin dibilang bodoh?. Untuk menghindari kebodohan itulah kita dituntut untuk menata hidup kita menjadi lebih baik. Keledai pun tak mau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Banyak hal yang bisa kita cantumkan dalam daftar resolusi kita. Dan biasanya hal tersebut adalah sesuatu yang tidak maupun belum kita lakukan di masa lalu. Tapi bagi saya pribadi, resolusi bukanlah mengerjakan hal yang baru, tetapi membiasakan hal positif yang dulunya sering terlupakan. Untuk orang-orang penganut paham “simplicity” seperti saya, saya tidak ingin membuat resolusi yang malah membuat hidup saya kerepotan. Usahakan sesimpel mungkin, dengan hasil semaksimal mungkin, dan kebaikan sebanyak mungkin. :)
Keinginan saya itu bukan sesuatu hal yang tidak mungkin. Kedamaian dalam hidup kita ini toh harus diciptakan dari sesuatu yang lebih kecil dulu. Sebagai contoh; sebagai seorang Muslim, saya terbiasa dididik oleh orangtua saya untuk membaca Al-Quran. Masalahnya, seiring bertambahnya usia, saya semakin jarang melakukannya. Sampai kemarin saya tersadar, betapa jauhnya saya dari pedoman hidup tersebut. Saya pun mulai memasukkan membaca Al-Quran sebagai agenda harian di dalam daftar resolusi saya.
Contoh yang lain, saya sebagai seorang manusia biasa pasti wajar mempunyai banyak keinginan. Dan semua keinginan saya itu menuntut untuk dipenuhi. Yang memberatkan saya sekarang, saya tidak punya cukup uang untuk memenuhi semua hal itu. Mengingat saya sudah cukup “dewasa” untuk merengek pada orangtua tentang masalah finansial tersebut, saya pun memutuskan untuk menabung.
Sebenarnya menabung bukan hal yang baru juga bagi saya. Saya bersyukur dibesarkan di keluarga saya, karena orangtua saya jugalah yang mengajarkan untuk menabung. Semenjak SMP, saya sudah mempunyai buku tabungan pribadi. Atas nama saya sendiri. Saya merasa sangat keren waktu itu. Tapi semenjak kuliah, saya bukannya menabung tetapi malah menguras tabungan. Dan sekarang saya merasa harus menabung lagi, harus menyisihkan sedikit hasil keringat saya untuk kepuasan batin yang menunggu untuk dituruti. Yah, setidaknya saya juga belajar arti ikhtiar dan bersabar.
Selanjutnya, bagian lain dari resolusi saya yang berhubungan dengan uang adalah sedekah. Ya, saya merasa saya sangat jarang bersedekah. Dan itu karena dulunya saya tidak terlalu memikirkan tentang hal tersebut. Sampai kemarin saya tersadar, apa gunanya uang yang saya dapatkan kalau hanya saya gunakan untuk diri sendiri. Egois sekali saya. Bukankah ada hak orang lain yang dititipkan melalui rezeki kita?
Nah, simple kan? Tapi saya merasa puas. Saya merasa sedikit lebih baik dari tahun kemarin. Bukankah perubahan itu butuh waktu? And it is my time.
Monday, September 19, 2011
The bound called "Marriage"
Banyak yang harus dipikirkan ketika sepasang anak manusia ingin mengikat tali suci ini.
Tak cukup hanya dengan saling mencintai.
Tak cukup hanya dengan saling menguatkan.
Tak cukup hanya dengan mau memahami dan mencoba tuk bisa slalu ada disisi.
Buat yang laki-laki…
Mereka harus berjuang dengan segenap tenaga mereka untuk mengumpulkan prestasi dan berbongkah-bongkah emas murni.
Mereka lah yang harus berjuang mati-matian agar bisa menghidupi keluarga secara layak, katanya.
Mereka harus punya mental dan fisik yang cukup kuat untuk menjalankan multi tugas sebagai seorang imam, tulang punggung, panutan dan nakhoda bahtera yang bernama “Rumah Tangga”.
Yang wanita pun sebenarnya bukan tinggal diam…
Wanita harus berpikir matang sebelum menyerahkan seluruh dirinya pada orang lain.
Ia harus rela untuk seterusnya akan terikat pada satu orang.
Ia harus rela untuk slalu patuh pada imamnya.
Wanita juga lah yang harus cakap menjalankan berbagai profesi demi terciptanya keluarga SaMaWa.
Ia harus bisa menjadi istri yang membuat hati suaminya senang dan tenang.
Ia harus bisa menjadi ibu yang luar biasa untuk anak-anaknya.
Ia mau tidak mau menjadi akuntan pribadi keuangan keluarganya.
Ia disulap menjadi koki handal untuk menenangkan perut suami dan anaknya
Dan ia jualah yang terkadang harus membantu suaminya untuk mengumpulkan pundi rupiah.
Menikah…
Kata indah yang ternyata susah.
Beruntunglah orang yang sudah menikah dan langgeng di dalam ikatan tersebut !
Wednesday, August 31, 2011
Ini baru nasehat :)
Bagaimana caranya ?
Bukan...bukan dengan pintu ajaib.
Bukan juga dengan mesin waktu :p
Sekitar pukul 10.00 kami sekeluarga berziarah ke makam ayah (kakek),mami (nenek) dan cutbang (adik sepupuku) sama seperti tahun tahun sebelumnya. jika tahun lalu aku bisa menghasilkan tulisan berjudul "Belajar dari Alam", maka kali ini kunjunganku kembali menelurkan sebuah tulisan (semacam setahun sekali ya nulisnya -____-).
Jadi gini...
yang namanya kuburan pasti dikelilingi pepohonan, yang namanya pepohonan pasti ada daun yang berguguran, dan yang namanya daun berguguran pasti tidak sedap dipandang mata (iyaa, ribet bahasanya).
jadi gini (lagi)...
Kuburan mami,ayah dan cutbang itu udah mulai ditumbuhi ilalang (entah kenapa tiap sebut kata ini, ingat lagu dangdut :s) dan ditutupi daun2 yang rontok,sehingga harus dibersihkan. Dan sperti tahun kemarin,kami kembali menggunakan jasa untuk membersihkan kuburan tersebut. Bedanya, kali ini yang menawarkan jasa itu bukan anak-anak, tapi remaja umuran akhir belasan tahun atau awal dua puluhan. Lain lubuk lain belalang, lain orang lain pula pelajaran yang bisa aku petik.
Jika tahun kemarin aku diajari cara menyampaikan amanah dan bagaimana harus bersikap adil, kali ini aku diajari masalah "uang dan pahala".
Sembari membersihkan kuburan, ketiga pemuda itu saling berbincang dan bercanda. Aku yang tidak punya kerjaan pun iseng memperhatikan mereka. Salah satu dari mereka memang agak tampak sedikit "kurang bersemangat" dalam menjalankan tugasnya sampai kemudian temannya nyeletuk " kerja yang betol..kerja tu bukan cuma cari duit coy, tapi cari pahala" dan langsung disembur dengan tawa temannya dan senyum manisku :P
Dimana letak pelajarannya ?
Ya dikata2 yang ada coy-nya tadi itu :D
Kalimat yang mungkin bisa menampar wajah siapa saja yang sudah kehilangan esensi dan makna dari pekerjaan.
Sekarang semua orang bekerja untuk mendapatkan uang,
disana bekerja untuk uang, disini pun ikut2an demi uang.
Para pemimpin rumah tangga sudah banyak yang mulai lupa bahwa setiap tetes keringat yang mereka keluarkan dari pori tubuh mereka merupakan ladang pahala...tapi itu jika mereka murni meniatkannya untuk keluarga mereka.
Dan uang yang mereka "gali" itu memang jatah mereka.
Susah rasanya untuk bisa mendapat uang dan pahala dengan sekali dayung, disaat hantaman gelombang ketamakan semakin dahsyat.
Thursday, August 11, 2011
Dewasa atau Hanya Sekedar Tua ?
Waktu itu aku pikir mungkin karena aku masih bergaul dengan lingkungan yang sama, mungkin karena aku masih dibawah lindungan utuh orangtua, atau mungkin memank belum saatnya aku dewasa?
Emosiku masih belum bisa dikontrol, bisa meledak hanya karena hal sepele. Tutur kata dan sikapku pun masih belum "manis" selayaknya orang dewasa menurutku.
Hmm..mungkin aku akan dewasa kalau aku sudah kuliah, kalau aku sudah merantau jauh dari orangtua.Itu keinginan, yang ternyata berbeda jauh dari fakta lapangan.
Setelah setengah hidup mempertahankan niatku untuk kuliah di luar kota Lhoseumawe, aku pun berangkat dengan niat mendewasakan diri.Ah..keren saja rasanya jika nanti aku pulang ke rumah orangtuaku bisa melihat bahwa anaknya sudah dewasa.
Well, tapi itu cuma angan2.
Yang terjadi di tahun pertama malah mengenaskan. Bukannya belajar mandiri, aku malah rutin menelepon orangtuaku untuk mengisahkan betapa aku tidak betah tinggal sendiri. Aku mengeluh tentang lingkungan baru yang membuatku susah beradaptasi. Aku malah menangisi nasib ke-anak-kosan-ku.
Bukan sekali mama menawarkanku untuk pulang saja, sudahi saja semuanya. Tapi emosi dan gengsiku waktu itu sama kuatnya. Aku malu jika aku harus pulang sebagai pecundang. Mereka bilang aku prinsipil,mungkin benar. Karena bagiku lebih baik menahan sakit disini daripada harus pulang yang berarti kalah.
Waktu mengubah segalanya, aku tak lagi secengeng awal kuliah, aku tak lagi sebentar-bentar pulang jika liburan tiba. Pada tahun-tahun terakhir, aku malah sempat tidak pulang selama 4-5 bulan. Rekor bagiku.
Hingga kini, I got it ! Aku mendapatkan titel itu, Ananda Sasnita, S.Pd.I sudah pantas aku tuliskan.
Tapi pertanyaannya, sudahkah aku dewasa ?
Aku masih waras dan sadar untuk menjawab: BELUM.
MAsih seperti tujuh tahun yang lalu, aku dan emosiku belum bisa berdamai. Dan untuk hal yang satu ini, aku gagal. Aku tak bisa menyelesaikan misi perdamaian dengan egoku sendiri.
Aku tidah bertambah dewasa, hanya saja aku bertambah tua :(
Tuesday, September 14, 2010
Teriakan sang gadis untuk yang berhati kecil
Ia hanya menatap terpaku pada hiruk pikuk dunia..
Membiarkan kulitnya tersengat aroma pemanasan akibat ulah jari-jari tangan lainnya..
Membaui kepulan gas toksin dari bibir-bibir knalpot dunia..
Yang ia ingat, ini bukan dunia yang ia inginkan..
Bukan negeri dalam dongeng yang sering terlintas dalam mimpinya..
Mimpi yang sering dibuyarkan,lagi-lagi oleh kebisingan dunia..
Bocah,remaja bahkan paruh baya itu seolah terlarut dalam ceremony..
Membakar uang yang sudah mengganti pakaiannya menjadi petasan dan kembang api..
Tak ingin munafik,
Sang gadis pun dahulunya pernah menjadi bagian dari lantunan ledakan itu..
Tapi itu dulu teman, dan pun tak pernah berlebihan..
Yang ia sayangkan, mereka yang membakar ratusan ribu rupiah tapi tak pernah bersedekah..
Yang ia sedihkan, mereka yang bersenang-senang tanpa melihat bahwa ada tetangganya yang kelaparan di malam lebaran..
Ya Rabb, dimanakah perasaan para insan ini ?
Kembali lagi si gadis tertunduk,
Ia malu karena ia hanya bisa menggerutu dalam hati..
Hanya bisa berteriak di dalam tempurung otak..
Ia tak mampu mengobarkan betapa ia amat membenci para rakyatvora (pemakan harta rakyat)..
Ia tak berdaya untuk memperbaiki segala yang sudah terlanjur membusuk..
Ia malang..
Terlalu kecilkah hati kita untuk merasakan penderitaan nyawa-nyawa lainnya ?
Mereka juga layak hidup mapan, teman..
Saturday, January 23, 2010
Rantai itu sodara ;)

Kawan,teman,sahabat..
Apa seh beda dari ketiga kata tersebut..
Jujur..
Seandainya ada orang yg bertanya kepadaku, untuk beberapa detik aku akan terpaku dan bingung..
Aku sendiri sebenarnya tidak bisa membedakan ketiga level diatas…
Oke, secara teori yang sering bergema di antero jagat raya ini, ketiganya pasti berbeda..
Tergantung seberapa dekat kamu dengan mereka, apa saja yang biasa kamu bicarakan dengan mereka, juga beberapa macam “bla..bla..bla” lainnya..
Menurutku..itu tak lebih dari sebuah teori..
Terserah menurutmu apa..
Karena aku tak bias mengkotak-kotakkan manusia menurut ‘advantage and disadvantage”nya mereka..
Terlalu sadis rasanya jika kamu bisa menganggap seorang teman itu gak ada hanya karena satu kesalahannya..
Atau, terlalu piciklah kalau kamu menurunkan level seorang sahabat menjadi kawan, hanya karena pada satu malam dia tidak mengangkat teleponmu padahal kamu sedang butuh “tong sampah”..
Jadi, harus dinamakan apa orang-orang yang pernah datang dan mengisi hari-harimu?
Terserah..
Tapi aku hanya tidak suka melihat kasta-kasta itu..
Bisa saja kamu hanya menggunakan satu kata : Sodara..
Karena emank pada kenyataannya semua manusia tu sodara kan?
Jaoh memank… kamu harus menarik silsilah panjang yang ujungnya bertaut pada Nabi Adam..:)
Sodara..
Bukankah terdengar lebih dekat dan nyaman?
Karena tidak mudah untuk memutuskan tali persaudaraan..Ia tidak serapuh itu..
Thursday, January 21, 2010
Aku tersadar !

Aku tersadar !
Seperti ada gemuruh yang membangunkan aq..
Ternyata aq telah sedikit 'melupakan' betapa berartinya mereka..
Ya..MEREKA..
Teman..bukan..mereka sudah aq anggap lebih..
Sahabat..mungkin..hanya saja aq tak dapat melihat mereka secara nyata..
Tapi itu bukan masalah,toh aq pun bertemu mereka bukan di alam nyata..
See?
Mereka tidak bisa aq lihat secara nyata,tapi aq begitu nyaman dengan kehadiran mereka..
Aq bisa tertawa nyaring karena siapa?
Karena mereka..
Aq bisa melampiaskan semua kekonyolanku pada siapa?
Mereka..
Mereka BERHARGA...
Dan hari ini aq benar-benar tersindir oleh kenyataan..
Ananda Sasnita SAYANG kalian semua,d'pampirezz..:*
Saturday, January 16, 2010
Belajar dari Alam ;)
Kita bisa belajar banyak..bukan hanya dari bangku sekolah yang dikelilingi oleh pilar-pilar kokohnya tapi juga dari sekeliling kita. Alam menyajikan banyak hal untuk kita amati -jika kita mau dan sedikit peka-.
Hari ini, 11 januari 2010,Selasa pagi sekitar pukul 09.00 WAS ( Waktu Ananda Sasnita :D ) kami sekeluarga berziarah ke kuburan ayah (kakek) dan mami (nenek). Disitu, aku mendapat beberapa “pelajaran” yang sebenarnya sudah sering ku dengar gaung-gaung teorinya. Mungkin pelajaran ini tidak bisa ku tangkap seandainya aku bersikap cuek sperti biasanya (kata salah seorang teman tentangku: manusia paling cuek sedunia yang pernah dikenalnya). Tapi hari ini lain, entah kenapa aku sedikit “peduli” dengan apa yang terjadi (sebenarnya akibat percakapan di handphone pada malam sebelumnya :D thanks ya J ) dan aku langsung saja bias mengamati “sesuatu”.
Jadi begini ceritanya (maaf, tadi baru muqaddimah :p ) :
Ketika sampai di komplek TPU di daerah Kutablang, Lhokseumawe tercinta, aku dan keluargaku langsung menuju ke ‘rumah baru’ ayah dan mami. Di belakang kami, beberapa anak berjalan mengikuti. Sebenarnya dari dulu aku sudah tau siapa mereka dan apa maksud mereka, tapi yaaa dulu aku
Pelajaran kedua yang aku dapat : setiap orang sudah punya rejeki masing-masing. Bisa dibayangkan
Baiklah, sekarang kita beralih ke pelajaran terakhir. Setelah tugas mereka selesai, mama yang memang sudah dari awal berniat “menggaji” mereka sebesar Rp.2000/orang langsung mengeluarkan dompetnya. Tapi mama tidak memiliki pecahan dua ribuan yang cukup untuk setiap mereka. Pecahan dua ribuan hanya ada dua lembar dan mama memberikannya kepada dua orang yang terkecil, sedangkan untuk
Wheeee…panjang juga ya pelajaran yang bisa didapat jika mau membuka mata untuk melihat sekitar. BELAJAR DARI ALAM ! J
Tuesday, June 30, 2009
Gak Semua yang Kita Inginkan Bisa Didapatkan
Gak kan?? Atau malah kamu merasa kamu paling unlucky krn byk hal kamu inginkan Cuma mimpi belaka?? Koq jadi ngerasa “kejamnya dunia” ya??
Seharusnya kamu gak mikir gtu, krn pasti ada saat2 dimana kamu merasa kecewa atau sedih karena “something” yg kamu inginkan ternyata bukan jatah kamu tu.. Tapi disitu la letak seninya hidup. Pernah ngebayangin gak klw seandainya apa yang kamu inginkan semua bisa jadi kenyataan?? Bakal runyam de tu urusannya.
Misalnya ne ya, kamu pengen jadi juara kelas, temen kamu juga pengen, yg laen juga pada pengen, walhasil sekelas tu pada nempatin posisi juara. Apakah hal itu bisa bikin kamu bahagia?? Gak kan..Wong semua org bisa, jadi gda rasa puas atw bangganya. Jadi disini kamu kehilangan seni kompetisinya. Kehilangan usaha keras untuk mencapai sesuatu. Padahal paling seneng kan rasanya bisa dapatin sesuatu (klw mank jatah) dari hasil jerih payah sendiri.
Bayangin lagi klw semua capres dan cawapres yg ikutan pemilu tu smw bakal dapetin apa yg mereka inginkan, mw jadi apa Negara qt? Satu pemimpin aja udh kelabakan, konon lagi klw keroyokan.
Udh gtu ne contoh bwt para remaja masa kini (emank nda masa kpn??hehehe..). Misalnya kamu naksir seseorang, kan kamu pengen tu dy jadi “soulmate” kamu, nah ternyata ada 5 org lain yg juga punya perasaan sama ke dy. Nah lo! Mw dipolipacarkah anda??
Jadi seharusnya qt malah bersyukur dengan keadaan yg sekarang ini. Gak semua yg qt inginkan bs qt dapatkan.. Karena gk smw yg qt inginkan tu terbaek bwt qt. Bisa jadi qt lagi di uji oleh Allah, sebatas manakah kesabaran qt bwt terus berusaha. Klw mank ujung2nya tetap gk dpt, yakin de klw Allah pasti udh nyiapin “ganti” yg lebih baek (biarpun kamu gak merasa). Allah kan lebih tw apa yg pantas dan gak pantas bwt makhluk-Nya. We just work hard and pray. For a result, let ALLAH decides. Do u agree with me??
24 agust 2008 ( 22 : 41 )











